Al-Ula Dan Madain Shalih

Kategori : Umrah, Lokasi, Ditulis pada : 24 Mei 2026, 14:30:12

 

Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....

 

Bagi sebagian jamaah umrah, nama Al-Ula mungkin masih terdengar asing. Padahal wilayah ini termasuk salah satu kawasan paling tua dalam sejarah Jazirah Arab. Letaknya sekitar 300 km di utara Madinah, berada di jalur lama yang dahulu menghubungkan Madinah dengan Syam.

Jika seseorang melakukan perjalanan darat dari Madinah menuju arah Tabuk, ia akan melewati lembah-lembah luas, pegunungan batu yang tinggi, serta oasis hijau di tengah gurun. Di sanalah berdiri Al-Ula, sebuah wilayah yang menyimpan jejak berbagai peradaban kuno selama ribuan tahun.

Namun bagi seorang muslim, wilayah ini bukan hanya sekadar tempat wisata sejarah. Ia juga menjadi pengingat tentang bangsa-bangsa terdahulu yang pernah hidup, berjaya, lalu hancur karena mendustakan para nabi.

 
 

Sekilas Tentang Al-Ula

Al-Ula merupakan sebuah kota tua di wilayah Provinsi Madinah, Arab Saudi. Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa manusia telah menetap di daerah ini sejak sekitar 4000 tahun yang lalu.

Wilayah ini subur dibandingkan daerah gurun di sekitarnya karena memiliki:

lembah yang luas,
sumber air bawah tanah,
oasis dengan ribuan pohon kurma.

Karena itulah sejak dahulu Al-Ula menjadi tempat persinggahan para kafilah dagang yang melewati jalur perdagangan kuno antara Yaman dan Syam, yang dikenal dengan jalur dupa (Incense Route).

Di wilayah ini pernah berkembang beberapa kerajaan kuno, di antaranya:

Kerajaan Dadan
Kerajaan Lihyan
Kerajaan Nabath

Jejak peradaban mereka masih dapat dilihat hingga hari ini berupa kota kuno, prasasti batu, dan makam yang dipahat di gunung.

 
 

Jejak Peradaban Kuno di Al-Ula

1. Kota Kuno Dadan

Dadan merupakan salah satu kerajaan tertua di wilayah Al-Ula. Para arkeolog menemukan sisa kota yang tertata rapi serta makam-makam yang dipahat di tebing batu.

Salah satu yang terkenal adalah “Makam Singa” (Lion Tombs), yaitu makam dengan ukiran patung singa di atasnya sebagai simbol kekuasaan.

2. Jabal Ikmah

Tempat ini sering disebut sebagai “perpustakaan terbuka di gurun.”

Di sini terdapat ratusan tulisan kuno yang dipahat di batu, berisi:

o catatan perdagangan,
o doa,
o kisah kehidupan masyarakat masa lampau.

Tulisan-tulisan ini membantu para peneliti memahami sejarah Arab sebelum Islam.

3. Kota Tua Al-Ula

Di tengah oasis terdapat kota tua Al-Ula yang dibangun sekitar abad ke-12.

Rumah-rumahnya terbuat dari tanah liat dan batu, dengan jalan sempit seperti labirin. Dahulu tempat ini menjadi pusat kehidupan masyarakat serta tempat singgah para musafir yang menuju Syam.

4. Oasis Al-Ula

Oasis ini merupakan sumber kehidupan wilayah tersebut sejak zaman dahulu. Ribuan pohon kurma tumbuh subur di tengah gurun yang kering.

Karena itulah Al-Ula sejak lama dikenal sebagai lembah yang makmur di tengah padang pasir.

 
 

Madain Shalih (Al-Hijr)

Tidak jauh dari Al-Ula, sekitar 22 km ke arah utara, terdapat kawasan yang sangat terkenal yaitu Madain Shalih.

Tempat ini disebut juga Al-Hijr, dan menjadi situs arkeologi terbesar di wilayah tersebut. Di sana terdapat lebih dari 100 makam besar yang dipahat di batu gunung, peninggalan bangsa Nabath sekitar abad pertama sebelum masehi.

Banyak orang mengaitkan wilayah ini dengan kaum Tsamud, yaitu kaum Nabi Shalih عليه السلام yang disebut dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا

“Dan kepada kaum Tsamud Kami utus saudara mereka, Shalih.”
(QS. Al-A‘raf: 73)

Kaum ini terkenal karena kemampuan mereka memahat rumah di gunung-gunung.

Allah berfirman:

وَتَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا فَارِهِينَ

“Dan kamu memahat rumah-rumah dari gunung dengan rajin.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 149)

 
 

Apa Bedanya Al-Ula dengan Madain Shalih?

Banyak jamaah umrah sering menyangka bahwa Al-Ula dan Madain Shalih adalah tempat yang sama, padahal sebenarnya berbeda.

Perbedaannya secara sederhana seperti ini:

Al-Ula

Madain Shalih

- Nama wilayah/kota

- Situs arkeologi

- Wilayah besar dengan oasis dan kota

- Area makam dan peninggalan kuno

- Ada banyak situs sejarah

- Fokus pada makam batu

- Dihuni penduduk hingga sekarang

- Kawasan peninggalan sejarah

Jadi dapat dikatakan:

Madain Shalih adalah salah satu situs yang berada di wilayah Al-Ula.

 
 

Hukum Mengunjungi Tempat Kaum yang Diazab (Seperti Madain Shalih)

Para jamaah sering bertanya tentang hukum mengunjungi Madain Shalih, yaitu wilayah yang dikaitkan dengan kaum Tsamud, kaum Nabi Shalih عليه السلام yang disebut dalam Al-Qur’an.

Rasulullah telah memberikan peringatan ketika melewati tempat tersebut.

Rasulullah bersabda:

لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ لَا يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ

“Janganlah kalian memasuki tempat kaum yang telah diazab ini kecuali dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak dapat menangis, maka janganlah memasukinya agar kalian tidak tertimpa apa yang menimpa mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Nabi melewati wilayah kaum Tsamud dalam perjalanan menuju Tabuk, beliau mempercepat perjalanan dan menutup kepala beliau, sebagai bentuk rasa takut kepada Allah Ta'ala.

Para ulama menjelaskan bahwa tempat-tempat yang pernah menjadi lokasi azab Allah Ta'ala bukan untuk dijadikan tempat wisata atau hiburan.

Jika seseorang melewatinya, maka hendaknya: mengambil pelajaran, merasa takut kepada Allah Ta'ala, dan tidak berlama-lama di sana tanpa kebutuhan.

 
 

Pelajaran bagi Jamaah

Madain Shalih mengingatkan kita bahwa kaum Tsamud dahulu memiliki peradaban maju dan bangunan megah, tetapi mereka hancur karena mendustakan nabi mereka.

Karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan tempat ini sebagai pelajaran iman, bahwa kemuliaan sejati bukan pada bangunan atau kekuatan dunia, tetapi pada iman dan ketaatan kepada Allah.

 

 

Link googlemaps: https://maps.app.goo.gl/jJMsx5Ng4hgnC4HX6

Sumber:  

- visitsaudi.com
- https://binbaz.org.sa/fatwas/22922/حكم-زيارة-اماكن-القوم-المعذبين
 
 
 
 
 
 
 
Oleh: Abu Haneen, Lc
Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc
Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id