Multazam

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 25 Mei 2026, 12:45:32

Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....

 

Di antara momen paling menggetarkan dalam umrah adalah saat berdiri di hadapan Ka’bah. Diri terasa kecil. Dosa terasa banyak. Harapan terasa besar.

Di sisi Ka’bah ada satu tempat yang dikenal dengan Multazam, yaitu bagian antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Banyak jamaah menempelkan dada, wajah, dan tangan di sana sambil berdoa dengan penuh harap.

Namun sebagai muslim yang berilmu, kita bertanya:

Apa dalilnya?
Bagaimana kedudukannya dalam syariat?

Mari kita bahas secara runtut.

 
 

Apa Itu Multazam?

Multazam adalah bagian antara Rukun (Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما bahwa beliau berkata:

مَا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ يُدْعَى الْمُلْتَزَمُ، لَا يَلْتَزِمُ مَا بَيْنَهُمَا أَحَدٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Antara Rukun dan pintu disebut al-Multazam. Tidaklah seseorang berdiri di antara keduanya memohon sesuatu kepada Allah kecuali Allah akan memberikannya.”

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dan statusnya mauquf (perkataan sahabat) dan dalam sanadnya terdapat kelemahan. Namun ia dikenal dalam praktik para salaf.

 
 

Riwayat Bahwa Nabi Melakukannya

Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa Nabi berdiri di Multazam dan menempelkan badan beliau ke dinding Ka’bah.

Di antaranya riwayat:

فَوَضَعَ صَدْرَهُ وَوَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَكَفَّيْهِ

“Beliau meletakkan dada, wajah, kedua lengan dan kedua telapak tangannya.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, namun dalam sanadnya terdapat Yazid bin Abi Ziyad yang dilemahkan oleh sebagian ulama. Namun para ulama menyatakan bahwa riwayat-riwayat tersebut saling menguatkan.

Imam An-Nawawi رحمه الله dalam Al-Majmu’ berkata:

وَالْعُلَمَاءُ مُتَّفِقُونَ عَلَى التَّسَامُحِ فِي الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ وَنَحْوِهَا مِمَّا لَيْسَ مِنَ الْأَحْكَامِ

“Para ulama sepakat untuk bersikap toleran terhadap hadits dha‘if dalam fadhailul a‘mal dan semisalnya yang bukan perkara hukum.”

Artinya, dalam bab keutamaan amal ada kelonggaran selama bukan perkara akidah dan halal-haram.

Dengan demikian, riwayat-riwayat tersebut — meskipun masing-masing ada catatan kelemahan — dapat menjadi hasan karena saling menguatkan secara keseluruhan.

 
 

Atsar Salaf Tentang Mustajabnya Doa

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri رحمه الله bahwa beliau berkata:

مَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ بَلْدَةٌ يُسْتَجَابُ فِيهَا الدُّعَاءُ فِي خَمْسَةَ عَشَرَ مَوْضِعًا إِلَّا مَكَّة

“Tidak ada satu negeri pun di muka bumi yang doa dikabulkan di dalamnya pada lima belas tempat, kecuali Makkah...”

Kemudian beliau menyebut di antaranya:

وَالدُّعَاءُ فِي الْمُلْتَزَمِ مُسْتَجَابٌ

“Doa di Multazam adalah mustajab.”

Riwayat ini menunjukkan bahwa praktik ini dikenal dalam tradisi salaf.

 
 

Penjelasan Ulama Kontemporer

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله dalam majmu' fatawa wa rosail (Jilid 22 (Bab: صفة الحج – pembahasan tentang الالتزام). berkata:

الِالْتِزَامُ لَمْ تَرِدْ فِيهِ سُنَّةٌ، لَكِنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ… فَالِالْتِزَامُ لَا بَأْسَ بِهِ مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ أَذًى وَضِيقٌ

“Iltizam tidak ada sunnah yang tegas darinya, namun para sahabat melakukannya. Maka tidak mengapa selama tidak ada unsur menyakiti dan berdesakan.”

Ini penting! Jangan sampai ibadah berubah menjadi mudharat yang membahayakan.

 
 

Yang Tidak Ada Dalilnya

Berpegang pada kiswah (kain penutup Ka’bah) dengan keyakinan ada berkah khusus adalah tidak ada dalilnya.

Yang diriwayatkan dari Nabi adalah ketika beliau masuk ke dalam Ka’bah, beliau:

Shalat dua rakaat
Berdoa
Bertakbir

Sebagaimana diriwayatkan oleh:

Usamah bin Zaid
Abdullah bin Abbas
Abdullah bin Umar melalui Bilal bin Rabah
 
 

Doa Ibnu Abbas di Multazam

Di antara doa yang masyhur dibaca di Multazam adalah doa Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، حَمَلْتَنِي عَلَى مَا سَخَّرْتَ لِي مِنْ خَلْقِكَ، وَسَيَّرْتَنِي فِي بِلَادِكَ، حَتَّى بَلَّغْتَنِي بِنِعْمَتِكَ إِلَى بَيْتِكَ، وَأَعَنْتَنِي عَلَى أَدَاءِ نُسُكِي
فَإِنْ كُنْتَ رَضِيتَ عَنِّي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا، وَإِلَّا فَمِنَ الْآنَ فَارْضَ عَنِّي قَبْلَ أَنْ تَنْأَى عَنْ بَيْتِكَ دَارِي، فَهَذَا أَوَانُ انْصِرَافِي إِنْ أَذِنْتَ لِي، غَيْرَ مُسْتَبْدِلٍ بِكَ وَلَا بِبَيْتِكَ، وَلَا رَاغِبٍ عَنْكَ وَلَا عَنْ بَيْتِكَ
اللَّهُمَّ فَأَصْحِبْنِي الْعَافِيَةَ فِي بَدَنِي، وَالصِّحَّةَ فِي جِسْمِي، وَالْعِصْمَةَ فِي دِينِي، وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِي، وَارْزُقْنِي طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنِي، وَاجْمَعْ لِي بَيْنَ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak perempuan hamba-Mu. Engkau telah membawaku dengan apa yang Engkau tundukkan bagiku dari makhluk-Mu. Engkau telah memperjalankanku di negeri-negeri-Mu hingga Engkau sampaikan aku dengan nikmat-Mu ke rumah-Mu. Engkau telah menolongku untuk menunaikan manasikku.

Jika Engkau telah ridha kepadaku, maka tambahkanlah keridhaan-Mu kepadaku. Jika belum, maka mulai saat ini ridhailah aku sebelum aku meninggalkan rumah-Mu dan tempat tinggalku menjauh darinya. Inilah saat kepergianku jika Engkau mengizinkanku, tanpa mengganti-Mu dan tanpa mengganti rumah-Mu, tidak berpaling dari-Mu dan tidak pula dari rumah-Mu.

Ya Allah, karuniakanlah kepadaku keselamatan pada badanku, kesehatan pada jasadku, penjagaan pada agamaku, perbaikilah akhir perjalananku, berikanlah aku ketaatan kepada-Mu selama Engkau memanjangkan usiaku, dan kumpulkanlah untukku kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ini doa yang sangat dalam maknanya:
pengakuan kehambaan, syukur, dan permohonan ridha sebelum meninggalkan Baitullah.

 
 

Istidlal dan Kesimpulan Fikih

Dari seluruh dalil dan atsar:

1. Tidak ada hadits shahih yang tegas memerintahkan iltizam.
2. Namun ada riwayat yang saling menguatkan.
3. Praktik sahabat lebih kuat riwayatnya.
4. Ulama membolehkan dalam bab fadhailul a‘mal.
5. Syaratnya: tidak menyakiti dan tidak berdesakan.

Hukumnya: boleh dan diharapkan kebaikannya, dengan menjaga adab.

 
 

Penutup

Jamaah umrah yang dimuliakan Allah Ta'ala....

Multazam bukan tempat yang otomatis mengabulkan doa.Yang mengabulkan doa adalah Allah Ta'ala.

Jika Anda sampai di sana, jangan sibuk berebut. Jangan menyakiti. Jangan memaksakan diri.

Tempelkan hati sebelum menempelkan dada.

Karena yang paling penting bukan apakah tangan kita menyentuh Ka’bah, tetapi apakah hati kita benar-benar bergantung kepada Allah Ta'ala?

Wallahu a‘lam.

 

Sumber:

https://binbaz.org.sa/fatwas/حكم-الدعاء-في-الملتزم-والتشبث-باستار-الكعبة
https://hajjwaomra.com/a/ فضل-الدعاء-عند-الملتزم

 

 

 

 

 

Oleh: Abu Haneen, Lc

Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id