Imam Malik bin Anas رحمه الله
Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....
Ketika kita menunaikan umrah dan berkunjung ke Kota Nabi Al-Madinah, hati kita sering dipenuhi rasa haru. Di kota inilah Nabi Muhammad ﷺ hidup, mengajarkan Islam, dan dimakamkan. Namun selain Rasulullah ﷺ dan para sahabat, Madinah juga melahirkan banyak ulama besar yang menjaga dan menyebarkan ilmu Islam kepada generasi setelahnya.
Salah satu ulama terbesar dari kota ini adalah Imam Malik bin Anas رحمه الله, seorang imam besar yang dikenal dengan gelar “Imam Darul Hijrah” (Imam negeri hijrah, yaitu Madinah). Beliau adalah salah satu dari empat imam mazhab besar dalam Islam, dan ilmunya menjadi rujukan umat hingga hari ini.
Bagi jamaah umrah yang berada di Madinah, mengenal sosok Imam Malik bukan sekadar belajar sejarah, tetapi juga merasakan bagaimana ilmu Islam dijaga dengan penuh keikhlasan di kota suci ini.
Ulama Besar yang Tumbuh di Madinah
Imam Malik رحمه الله lahir di Madinah pada tahun 93 Hijriyah (711 M). Sejak kecil beliau tumbuh di lingkungan yang dekat dengan ilmu dan hadits Nabi. Madinah saat itu masih dipenuhi oleh para tabi'in, yaitugenerasi yang belajar langsung dari para sahabat Nabi ﷺ.
Sejak usia muda, Imam Malik sudah sangat mencintai ilmu. Beliau mulai menuntut ilmu ketika masih belasan tahun. Dengan kesungguhan belajar, beliau akhirnya menjadi seorang ulama besar yang dipercaya memberikan fatwa ketika usianya baru sekitar 21 tahun.
Namun ada hal menarik dari sikap beliau. Imam Malik tidak langsung berani berfatwa. Beliau berkata:
“Aku tidak berfatwa sampai tujuh puluh ulama bersaksi bahwa aku layak melakukannya.”
Ini menunjukkan betapa besar rasa tanggung jawab beliau terhadap agama.
Kecintaan Imam Malik kepada Hadits Nabi
Salah satu hal yang sangat terkenal dari Imam Malik adalah penghormatan beliau kepada hadits Nabi ﷺ.
Ketika hendak menyampaikan hadits, beliau tidak melakukannya sembarangan. Diceritakan bahwa beliau berwudhu terlebih dahulu, memakai pakaian terbaik, menyisir janggutnya, duduk dengan penuh wibawa.
Ketika ditanya mengapa melakukan itu, beliau menjawab:
“Aku ingin memuliakan hadits Rasulullah ﷺ.”
Sikap ini menunjukkan betapa besar rasa cinta dan penghormatan beliau kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Ilmu yang Dipelajari dengan Hati yang Bersih
Imam Malik رحمه الله pernah mengatakan kalimat yang sangat terkenal:
“Ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan pada siapa yang Dia kehendaki, bukan sekadar banyaknya riwayat.”
Artinya, ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan, tetapi juga dari ketakwaan, adab, dan keikhlasan hati.
Karena itu beliau juga menasihati para penuntut ilmu:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Nasihat ini sangat penting, karena ilmu yang tidak disertai adab bisa kehilangan keberkahannya.
Kerendahan Hati Seorang Imam
Walaupun menjadi ulama besar yang didatangi oleh orang dari berbagai negeri, Imam Malik رحمه الله dikenal sangat rendah hati.
Bahkan dalam banyak kesempatan, beliau tidak malu mengatakan:
“Aku tidak tahu.”
Diriwayatkan bahwa suatu hari beliau ditanya 48 pertanyaan, dan beliau menjawab lebih dari 30 pertanyaan dengan “aku tidak tahu.”
Bagi beliau, mengatakan “tidak tahu” lebih selamat daripada berbicara tanpa ilmu.
Kitab Terkenalnya: Al-Muwaththa’
Karya terbesar Imam Malik رحمه الله adalah: Al-Muwatta'.
Kitab ini termasuk kitab hadits tertua yang sampai kepada kita.
Banyak ulama memujinya, termasuk As-Syafi'i yang berkata:
“Tidak ada kitab setelah Al-Qur’an yang lebih sahih daripada Muwaththa’ Malik.”
(di zaman itu belum ada kitab shahih bukhori)
Kitab ini berisi kumpulan berbagai:
Wafatnya Imam Malik
Imam Malik رحمه الله wafat pada tahun 179 Hijriyah (795 M) di Madinah. Beliau dimakamkan di pemakaman Jannat al-Baqi, tidak jauh dari Masjid Nabawi.
Bagi jamaah umrah yang berziarah ke Baqi, mungkin kita berjalan tidak jauh dari tempat dimakamkannya imam besar ini, seorang ulama yang menghabiskan hidupnya untuk menjaga sunnah Nabi ﷺ.
Pelajaran yang bisa diambil
Dari kehidupan Imam Malik رحمه الله, ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kita ambil:
1. Ilmu harus disertai adab
Sebelum mencari ilmu, kita perlu memperbaiki sikap, keikhlasan, dan akhlak.
2. Jangan merasa paling tahu
Keberanian mengatakan “saya tidak tahu” adalah tanda kejujuran dan kerendahan hati.
3. Memuliakan sunnah Nabi
Imam Malik menunjukkan bagaimana seorang muslim harus menghormati dan mencintai ajaran Rasulullah ﷺ.
4. Setiap orang memiliki jalan kebaikan
Ada yang banyak beribadah, ada yang berdakwah, ada yang mengajarkan ilmu. Semua bisa menjadi jalan menuju ridha Allah Ta'ala.
Penutup
Ketika kita berada di Madinah dalam perjalanan umrah, kita tidak hanya mengunjungi kota Nabi ﷺ, tetapi juga kota yang menjadi saksi lahirnya para ulama besar seperti Imam Malik bin Anas رحمه الله.
Beliau adalah contoh bagaimana ilmu, adab, dan keikhlasan bisa melahirkan keberkahan yang bertahan hingga beribu tahun.
Semoga Allah Ta'ala merahmati Imam Malik, dan semoga kita yang berkunjung ke Madinah dapat mengambil pelajaran dari kehidupan beliau, yaitu dengan mencintai ilmu, memuliakan sunnah Nabi, dan menjaga hati agar tetap ikhlas dalam beribadah.
Aamiin....
Sumber: alukah.net/إمام-دار-الهجرة-مالك-بن-أنس/
Oleh: Abu Haneen, Lc
Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc
