Masjid Jum‘ah (مسجد الجمعة)

Kategori : Umrah, Lokasi, Ditulis pada : 20 Mei 2026, 05:41:32

Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ….

 

Di antara tempat bersejarah yang sering dilalui jamaah ketika ziarah di Madinah ada sebuah masjid yang tidak terlalu besar, tetapi memiliki nilai sejarah yang sangat agung. Masjid itu dikenal dengan nama Masjid alJumu'ah.

Bagi banyak jamaah umrah, masjid ini mungkin terlihat sederhana. Namun di tempat inilah Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat Jumat pertama setelah hijrah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar shalat berjamaah biasa. Ia menjadi simbol awal terbentuknya masyarakat Islam yang baru di kota Madinah.

Ketika kita berdiri di sekitar masjid ini, seakan-akan kita sedang menyaksikan kembali perjalanan hijrah Nabi ﷺ, perjalanan yang mengubah arah sejarah Islam.

 
 

Perjalanan Hijrah hingga Jumat Pertama

Ketika Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah menuju Madinah, beliau tiba terlebih dahulu di daerah Quba pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal tahun pertama Hijriyah.

Di sana beliau tinggal selama empat hari.

Kemudian pada hari Jumat, beliau melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Madinah. Ketika sampai di sebuah lembah bernama Wadi Ranuna, waktu shalat Jumat telah tiba.

Nabi pun berhenti di tempat tersebut, mengumpulkan para sahabat, lalu melaksanakan shalat Jumat bersama mereka. Di situlah kemudian dibangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Jum‘ah.

Ibnu Qayyim رحمه الله menjelaskan dalam kitabnya Zaad al ma'aad:

فَأَدْرَكَتْهُ الْجُمُعَةُ فِي بَنِي سَالِمِ بْنِ عَوْفٍ، فَصَلَّاهَا فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَطْنِ الْوَادِي، وَكَانَتْ أَوَّلَ جُمُعَةٍ صَلَّاهَا بِالْمَدِينَةِ قَبْلَ تَأْسِيسِ مَسْجِدِهِ

“Nabi mendapati waktu Jumat di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, lalu beliau melaksanakan shalat Jumat di masjid yang berada di lembah itu. Itulah shalat Jumat pertama yang beliau lakukan di Madinah, sebelum Masjid Nabawi dibangun.”

 
 

Khutbah yang Menggugah Hati

Sebagian riwayat menyebutkan potongan dari khutbah Nabi pada Jumat tersebut. Khutbah itu sarat dengan nasihat tentang kehidupan, kematian, dan tanggung jawab manusia.

Di antara isi khutbahnya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ، تَعَلَّمُوا، واللهِ لَيُقْسِمَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتُ، ثُمَّ لَيَدَعَنَّ غَنَمَهُ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ، ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ رَبُّهُ: أَلَمْ يَأْتِكَ رَسُولِي؟ أَلَمْ أُعْطِكَ مَالًا وَأُفَضِّلْ عَلَيْكَ؟ فَمَا قَدَّمْتَ لِنَفْسِكَ؟

“Wahai manusia, persiapkanlah bekal untuk diri kalian. Demi Allah, kematian pasti akan datang kepada salah seorang dari kalian. Ia akan meninggalkan hartanya tanpa penjaga. Lalu Rabb-nya akan berkata: Bukankah telah datang rasul-Ku kepadamu? Bukankah Aku telah memberimu harta dan karunia? Lalu apa yang telah engkau persiapkan untuk dirimu?”

Khutbah ini mengingatkan bahwa hidup di dunia adalah persiapan mencari bekal untuk akhirat dan hanyalah perjalanan singkat menuju perjumpaan dengan Allah Ta'ala.

 
 

Makna Besar Shalat Jumat

Shalat Jumat bukan sekadar ibadah rutin setiap pekan. Ia adalah salah satu syiar besar dalam Islam yang sejak masa Rasulullah menjadi momen berkumpulnya kaum muslimin untuk mendengarkan nasihat, memperbaharui iman, dan menguatkan hubungan dengan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah menuju dzikir kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 9)

Ayat ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Jumat. Ketika panggilan shalat telah dikumandangkan, seorang muslim diperintahkan meninggalkan kesibukan dunia, bahkan aktivitas perdagangan, untuk segera menuju masjid.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzikir kepada Allah” dalam ayat ini adalah khutbah dan shalat Jumat. Imam Ibn Kathir رحمه الله menjelaskan:

وَالْمُرَادُ بِالذِّكْرِ هَاهُنَا الْخُطْبَةُ وَالصَّلَاةُ

“Yang dimaksud dengan dzikir di sini adalah khutbah dan shalat.”

Karena itu, shalat Jumat bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga majelis ilmu dan nasihat bagi umat Islam. Di sana kaum muslimin berkumpul, mendengarkan peringatan tentang takwa, serta memperkuat persatuan di tengah masyarakat.

Sejak pertama kali dilaksanakan oleh Nabi di lembah Ranuna’, shalat Jumat telah menjadi simbol persatuan umat dan syiar Islam yang terus hidup hingga hari ini. Setiap pekan, kaum muslimin dari berbagai latar belakang berdiri dalam satu barisan yang sama—menghadap kiblat yang sama—sebagai tanda bahwa mereka adalah satu umat yang disatukan oleh iman kepada Allah.

 
 

Masjid Jum‘ah Hari Ini

Masjid yang dahulu hanya berupa bangunan kecil kini telah diperluas oleh pemerintah Saudi sehingga mampu menampung ratusan jamaah.

Letaknya sekitar:

900 meter dari Masjid Quba
sekitar 3 km dari Masjid Nabawi

Meskipun tidak sebesar masjid-masjid utama di Madinah, tempat ini tetap menjadi tujuan ziarah penting bagi jamaah umroh, karena di sinilah sebuah bab penting sejarah Islam dimulai.

Link google maps: https://maps.app.goo.gl/nPKftgdhJ8x6zz2u6?g_st=ipc

 
 

Pelajaran untuk Jamaah Umrah

Dari kisah Masjid Jum‘ah ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga:

1. Hijrah selalu melahirkan perubahan besar

Hijrah Nabi bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi awal lahirnya peradaban Islam.

2. Jumat adalah syiar persatuan umat

Melalui shalat Jumat, kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul dalam satu barisan di bawah kepemimpinan Nabi .

3. Hidup adalah persiapan menuju akhirat

Isi khutbah Nabi pada Jumat pertama mengingatkan bahwa manusia harus menyiapkan bekal sebelum datangnya kematian.

4. Tempat kecil bisa memiliki sejarah besar

Masjid ini sederhana, tetapi menjadi saksi momen penting dalam sejarah Islam.

 
 

Penutup

Ketika jamaah umrah melewati Masjid Jum‘ah, cobalah berhenti sejenak dan merenung.

Bayangkan perjalanan Nabi yang penuh perjuangan: meninggalkan Makkah, disambut oleh kaum Anshar, lalu berhenti di sebuah lembah kecil untuk memimpin shalat Jumat pertama di Madinah.

Di tempat itu, Nabi mengingatkan umatnya tentang takwa, tanggung jawab, dan persiapan menuju akhirat.

Semoga setiap langkah kita di Madinah bukan sekadar perjalanan wisata religi, tetapi menjadi perjalanan hati yang mendekatkan kita kepada Allah Ta'ala dan lebih meneladani Nabi ﷺ.

 

Sumber: Zad al-Ma'ad karya Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah

 

 

 

 

Oleh: Abu Haneen, Lc

Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id