Masjid As-Suqya

Kategori : Umrah, Lokasi, Ditulis pada : 21 Mei 2026, 18:38:15

 

Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ….

 

Di kota Madinah, hampir setiap sudutnya menyimpan jejak langkah Nabi Muhammad . Ada tempat-tempat yang mungkin tidak sebesar Masjid Nabawi, namun memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat dalam, salah satunya adalah Masjid As-Suqya (مسجد السقيا).

Di tempat inilah Nabi pernah berhenti ketika berangkat menuju Perang Badar. Di sinilah beliau shalat, berdoa, dan memohon keberkahan bagi penduduk Madinah. Bahkan di kawasan ini pula Nabi menegaskan bahwa Madinah adalah tanah haram, sebagaimana Nabi Ibrahim عليه السلام menjadikan Makkah sebagai tanah haram.

Karena itulah, meskipun bangunannya kecil, Masjid As-Suqya menyimpan sejarah yang besar dalam perjalanan Islam.

 
 

Sejarah Masjid As-Suqya

Masjid ini dibangun di lokasi tempat Nabi berhenti ketika beliau keluar dari Madinah menuju Perang Badar. Saat itu Nabi meninjau pasukan kaum Muslimin sebelum melanjutkan perjalanan.

Peristiwa ini berkaitan dengan janji Allah Ta'ala dalam Al-Quran tentang kemenangan kaum Muslimin.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepada kalian salah satu dari dua golongan bahwa ia akan menjadi milik kalian. Kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatanlah yang menjadi milik kalian, tetapi Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.”
(QS. Al-Anfal: 7)

Di tempat inilah Nabi melaksanakan shalat dan berdoa untuk keberkahan penduduk Madinah.

Beberapa waktu kemudian, pada akhir abad pertama hijriah, Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi gubernur Madinah membangun masjid di tempat tersebut untuk mengenang peristiwa bersejarah ini.

 
 

Doa Nabi untuk Penduduk Madinah

Di lokasi ini Nabi memanjatkan doa yang sangat agung bagi penduduk Madinah.

Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ دَعَاكَ لِأَهْلِ مَكَّةَ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ أَدْعُوكَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ أَنْ تُبَارِكَ لَهُمْ فِي صَاعِهِمْ وَمُدِّهِمْ وَثِمَارِهِمْ، اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ

“Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba dan kekasih-Mu. Ia telah berdoa kepada-Mu untuk penduduk Makkah. Aku adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu, aku berdoa kepada-Mu untuk penduduk Madinah agar Engkau memberkahi mereka dalam sha’ mereka, mud mereka, dan buah-buahan mereka. Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana Engkau menjadikan kami mencintai Makkah.”

(HR. Muslim No. 2432)

Doa Nabi inilah yang menjadi salah satu sebab keberkahan kota Madinah sepanjang sejarah.

 
 

Penetapan Madinah sebagai Tanah Haram

Di kawasan ini pula Nabi menegaskan bahwa Madinah adalah tanah haram.

Beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي حَرَّمْتُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ الْحَرَمَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan wilayah di antara dua batu hitam Madinah sebagai tanah haram sebagaimana Ibrahim menjadikan tanah haram (di Makkah).”

(HR. Muslim No. 1360)

Hadits ini menunjukkan kemuliaan kota Madinah yang ditetapkan langsung oleh Nabi .

 
 

Kisah Istisqa di Tempat Ini

Tempat ini juga terkait dengan peristiwa yang terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه.

Ketika Madinah mengalami kekeringan, beliau meminta Abbas bin Abdul Muttalib (paman Nabi ) untuk berdoa kepada Allah agar turun hujan.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Umar رضي الله عنه berkata:

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا
وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

“Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Kemudian Allah pun menurunkan hujan kepada mereka.
(HR. Imam Bukhari)

 
 

Asal Penamaan Masjid

Masjid ini dinamakan Masjid As-Suqya karena berada di dekat Sumur As-Suqya.

Sumur tersebut dahulu milik sahabat Nabi: Sa'd bin Abi Waqqas رضي الله عنه.

Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Talib رضي الله عنه bahwa Rasulullah pernah berwudhu dari sumur tersebut sebelum berdoa.

Hal ini menunjukkan bahwa sumur tersebut memiliki sejarah yang erat dengan perjalanan Nabi menuju Badar.

 
 

Lokasi Masjid

Masjid As-Suqya terletak di kawasan Bab al-Anbariyah di kota Madinah.

Lokasinya berada:

Di dekat bekas stasiun kereta api Hijaz
Berhadapan dengan gedung Amanah Madinah (balai kota)
Di sebelah barat kawasan Masjid Nabawi

Wilayah ini dahulu termasuk kawasan Harrah bagian barat Madinah, yaitu daerah berbatu vulkanik yang mengelilingi kota.

 
 

Bentuk dan Arsitektur Masjid

Masjid As-Suqya memiliki bentuk yang sederhana.

Ciri-cirinya antara lain:

Bangunan kecil
Luas sekitar 50–120 meter persegi
Memiliki tiga kubah
Tidak memiliki menara

Arsitekturnya dipengaruhi oleh gaya Utsmani (Ottoman).

Masjid ini beberapa kali mengalami kerusakan sepanjang sejarah dan kemudian dipugar kembali, termasuk pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz.

 
 

Penutup: Tempat Doa yang Penuh Berkah

Masjid As-Suqya mungkin tidak sebesar masjid-masjid lain di Madinah. Namun tempat ini memiliki makna yang sangat dalam.

Di sinilah Nabi : Meninjau pasukan menuju Perang Badar, Shalat dan berdoa untuk keberkahan Madinah, Menegaskan kemuliaan kota Madinah, serta Menjadi tempat peristiwa doa meminta hujan pada masa para sahabat.

Semua ini menunjukkan bahwa sejarah Islam tidak hanya tersimpan dalam bangunan besar, tetapi juga dalam tempat-tempat sederhana yang pernah diinjak oleh Nabi .

 
 

Pesan untuk Jamaah

Ketika seorang Muslim mengunjungi Madinah dan melihat tempat-tempat seperti Masjid As-Suqya, ada pelajaran besar yang bisa diambil.

Para sahabat dahulu berkumpul di tempat ini sebelum menuju medan jihad. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan demi membela agama Allah Ta'ala.

Hari ini kita datang ke Madinah sebagai tamu Rasulullah . Maka sudah selayaknya kita:

memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ,
mencintai Madinah sebagaimana Nabi mencintainya,
memperbaiki iman dan amal kita.

Karena pada akhirnya, keberkahan Madinah bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan oleh hati yang ingin mendekat kepada Allah.

 

 

Link google maps: https://maps.app.goo.gl/cmcVbABhn1vQrpRb6

Sumber:

- Shahih Muslim No. 2432
 
 
 
 
 
 
Oleh: Abu Haneen, Lc
Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc 
Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id