Masjid Bilal bin Rabah
Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....
Di antara tempat yang sering dilewati jamaah ketika berada di sekitar Madinah terdapat sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Bilal bin Rabah. Letaknya tidak jauh dari Masjid Nabawi, sekitar beberapa ratus meter dari kawasan Bab as-Salam, sehingga cukup mudah dijangkau oleh para peziarah.
Bagi sebagian jamaah umrah, masjid ini mungkin tampak seperti masjid biasa di tengah kota. Namun di balik namanya tersimpan kisah seorang sahabat agung yang suaranya pernah menggema memanggil manusia menuju shalat.
Dinamakan dengan Nama Sahabat Mulia
Masjid ini dinamai Bilal bin Rabah, sahabat Nabi yang sangat terkenal dalam sejarah Islam.
Bilal bin Rabah رضي الله عنه adalah muadzin pertama dalam Islam, orang yang dipercaya oleh Nabi ﷺ untuk mengumandangkan azan sholat lima waktu.
Kisah hidupnya sangat menginspirasi. Dahulu Bilal adalah seorang budak di Makkah. Ia disiksa oleh tuannya karena mempertahankan keimanannya kepada Allah. Namun setelah masuk Islam, ia dimuliakan oleh Allah Ta'ala dan dibebaskan oleh Abu Bakr as-Siddiq رضي الله عنه.
Sejak itu Bilal menjadi sahabat yang sangat dekat dengan Nabi dan menjadi muadzin tetap di Madinah.
Karena kedudukannya yang mulia inilah, sebagian tempat di Madinah dinisbatkan kepada beliau sebagai bentuk penghormatan dan pengingat sejarah.
Bangunan Masjid dan Suasana Sekitarnya
Masjid Bilal yang ada sekarang bukan bangunan dari masa sahabat, tetapi dibangun pada masa yang lebih belakangan.
Bangunannya terdiri dari beberapa tingkat:
Pasar di sekitar masjid ini cukup ramai. Banyak jamaah dan penduduk setempat yang berbelanja di sana karena barang-barangnya dikenal lebih sederhana dan relatif terjangkau.
Karena lokasinya dekat dengan Masjid Nabawi, tempat ini sering dilewati oleh para peziarah yang berjalan menuju masjid.
Kisah Azan Bilal yang Menggetarkan Madinah
Nama Bilal tidak bisa dipisahkan dari azan. Suara azannya dahulu menggema di Madinah setiap hari, memanggil kaum muslimin menuju shalat di Masjid Nabawi.
Namun ada kisah yang sangat menyentuh setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Diriwayatkan bahwa setelah Nabi wafat, Bilal hampir tidak pernah lagi mengumandangkan azan di Madinah karena hatinya sangat sedih mengingat Rasulullah ﷺ.
Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Bilal pernah kembali ke Madinah dan diminta oleh cucu Nabi, yaitu Al-Hasan ibn Ali dan Al-Husayn ibn Ali, untuk mengumandangkan azan.
Ketika Bilal mengucapkan:
الله أكبر الله أكبر
suasana Madinah mulai bergetar oleh kenangan.
Dan ketika sampai pada kalimat:
أشهد أن محمداً رسول الله
penduduk Madinah tidak mampu menahan tangis. Mereka teringat kembali kepada Rasulullah ﷺ, seakan-akan beliau baru saja berada di tengah mereka.
Riwayat ini disebutkan oleh para ulama sejarah seperti Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah.
Hikmah bagi Jamaah Umrah
Ketika melewati Masjid Bilal, kita tidak sekadar melihat sebuah bangunan. Kita sedang diingatkan pada sosok sahabat yang:
Kisah Bilal mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh nasab, harta, atau kedudukan, tetapi oleh iman dan keteguhan dalam mempertahankan kebenaran.
Penutup
Masjid Bilal di Madinah memang bukan masjid besar seperti Masjid Nabawi. Namun namanya mengingatkan kita pada seorang sahabat yang suaranya pernah memanggil umat kepada shalat.
Setiap kali mendengar azan di Madinah, seakan kita diingatkan pada jejak suara Bilal bin Rabah yang dahulu menggema di kota Nabi.
Semoga Allah meridhai para sahabat Nabi, dan semoga perjalanan umrah kita bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk meneladani iman generasi terbaik umat ini.
Wallahu a’lam bis showab.
Link googlemaps: https://maps.app.goo.gl/qjyd4DiSeuXqexjZ8
sumber: https://welcomesaudi.com/ar/activity/masjid-bilal-madinah
Oleh: Abu Haneen, Lc
Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc
