Masjid Miqat (Dzul Hulaifah)

Kategori : Umrah, Lokasi, Ditulis pada : 14 Mei 2026, 08:52:57

 

Bismillah, alhamdulillah was sholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Setiap jamaah umrah yang berangkat dari Madinah menuju Makkah pasti akan singgah di sebuah tempat yang sangat penting dalam perjalanan ibadahnya. Tempat itu adalah Masjid Miqat, yang dikenal juga dengan nama Dzul Hulaifah.

Di sinilah perjalanan ruhani menuju Baitullah benar-benar dimulai. Para jamaah meninggalkan pakaian biasa, mengenakan pakaian ihram yang sederhana, lalu mengucapkan talbiyah dengan penuh kerendahan hati:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Dari tempat inilah jutaan jamaah sepanjang sejarah memulai ihram mereka, mengikuti jejak Nabi ketika hendak melaksanakan haji dan umrah.

 
 

Miqat yang Ditetapkan Nabi

Dzul Hulaifah adalah miqat bagi penduduk Madinah dan siapa saja yang melewati jalur tersebut menuju Makkah. Miqat ini termasuk salah satu dari lima miqat yang ditentukan oleh Rasulullah .

Dalam hadits shahih disebutkan:

وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ

“Rasulullah menetapkan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Karena itu, setiap jamaah yang berangkat dari Madinah wajib memulai ihram dari tempat ini.

Menariknya, Dzul Hulaifah merupakan miqat yang paling jauh dari Makkah, sekitar 400 km. Para ulama menyebutkan bahwa hal ini mengandung hikmah agar penduduk Madinah lebih lama berada dalam keadaan ihram sehingga pahala mereka semakin besar.

 
 

Lembah yang Diberkahi

Masjid Miqat terletak di daerah Dzul Hulaifah, di sisi barat Wadi Al-Aqiq, sekitar 14 km dari Masjid Nabawi.

Tempat ini memiliki keutamaan khusus karena Rasulullah pernah menerima wahyu di sana. Dalam hadits disebutkan:

أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي وَأَنَا بِالْعَقِيقِ، فَقَالَ: صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ

“Tadi malam telah datang kepadaku utusan dari Rabbku ketika aku berada di lembah Al-‘Aqiq, lalu ia berkata: ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini.’”
(HR. Bukhari)

Karena itulah lembah ini dikenal sebagai lembah yang diberkahi.

Di tempat inilah Nabi biasa berhenti ketika hendak berangkat ke Makkah. Beliau shalat terlebih dahulu, kemudian memulai ihram untuk haji atau umrah.

 
 

Mengapa Disebut Masjid Syajarah?

Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Syajarah (Masjid Pohon).

Sebabnya, ketika Nabi keluar dari Madinah menuju Makkah, beliau biasa berhenti di bawah sebuah pohon di daerah tersebut, kemudian shalat dan memulai ihram.

Peristiwa ini diriwayatkan oleh para sahabat yang menyaksikan langsung perjalanan haji dan umrah Rasulullah .

 
 

Sejarah Pembangunan Masjid

Masjid di tempat miqat ini pertama kali dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menjadi gubernur Madinah pada akhir abad pertama hijriyah.

Setelah itu masjid ini mengalami beberapa renovasi:

Diperbarui pada masa Dinasti Abbasiyah
Diperbarui lagi pada masa Kesultanan Utsmani
Kemudian diperluas secara besar-besaran pada masa Faisal bin Abdulaziz Al Saud
Pengembangan besar juga dilakukan pada masa Fahd bin Abdulaziz Al Saud

Dahulu masjid ini sangat kecil, hanya terbuat dari batu dan tanah liat. Namun seiring meningkatnya jumlah jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia, masjid ini diperluas hingga menjadi kompleks besar yang mampu melayani ribuan jamaah.

 
 

Arsitektur dan Fasilitas Masjid

Saat ini Masjid Miqat menjadi salah satu komplek miqat terbesar bagi jamaah haji dan umrah.

Beberapa cirinya antara lain:

Bangunan berbentuk persegi
Luas area sekitar 6.000 meter persegi
Memiliki dua deretan serambi yang dipisahkan oleh halaman luas
Mampu menampung sekitar 5.000 jamaah
Memiliki menara spiral setinggi 62 meter
Kubah-kubah tinggi dengan ketinggian sekitar 16 meter

Di sekitar masjid juga tersedia berbagai fasilitas bagi jamaah:

Tempat mandi dan memakai pakaian ihram
Tempat wudhu
Area parkir luas
Pasar kecil untuk kebutuhan jamaah
Taman dengan pohon kurma

Semua fasilitas ini dibuat agar para tamu Allah dapat memulai ihram dengan nyaman sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ka'bah di Makkah.

 
 

Meluruskan Kesalahpahaman tentang “Abyar Ali”

  • Asal-usul Nama “Abyar Ali”

Sebagian masyarakat menyebut tempat ini Abyar Ali (Sumur-sumur Ali). Tentang asal-usul nama ini terdapat dua pendapat:

1. Kisah Ali melawan jin

Ada yang mengatakan bahwa nama itu berasal dari kisah bahwa Ali ibn Abi Talib pernah memerangi jin di tempat tersebut.

Namun penjelasan ini dibantah oleh para ulama, di antaranya Ibn Taymiyyah, yang menyatakan:

Tidak ada sahabat yang memerangi jin di tempat itu
Kisah tersebut adalah cerita yang tidak benar
Tidak ada keutamaan khusus pada sumur tersebut
Tidak disyariatkan melempar batu atau melakukan ritual tertentu di sana

Beliau berkata dalam Majmu‘ Al-Fatawa (26/99):

“Dzul Hulaifah adalah miqat yang paling jauh dari Makkah… Di sana ada sebuah sumur yang oleh orang awam disebut ‘Sumur Ali’. Mereka mengira Ali memerangi jin di sana. Ini adalah kebohongan.”

2. Dinamakan karena Ali Dinâr

Pendapat lain mengatakan nama itu berasal dari Ali Dinar, penguasa Darfur.

Namun penjelasan yang lebih tepat adalah:

Ali Dinar datang berhaji pada tahun 1898 M
Saat itu kondisi miqat sangat buruk
Ia kemudian menggali sumur untuk jamaah, menyediakan makanan bagi mereka, serta merenovasi Masjid Dzul Hulaifah

Karena jasanya itu, masyarakat kemudian menyebut tempat tersebut Abyar Ali.

Namun sebenarnya nama tersebut sudah dikenal jauh sebelum kelahiran Ali Dinar, bahkan telah disebutkan dalam banyak kitab sejarah berabad-abad sebelumnya.

  • Penegasan Nama yang Lebih Tepat

Sebagian ulama menegaskan bahwa nama yang paling benar adalah “Dzul Hulaifah, karena itulah nama yang digunakan oleh Nabi .

Di antara yang menekankan hal ini adalah Bakr Abu Zayd, yang berkata:

“Apa yang dibangun di atas perselisihan sebaiknya ditinggalkan. Maka tinggalkanlah nama yang tidak benar dan gunakanlah nama yang diucapkan oleh Nabi , yaitu Dzul Hulaifah.”

Beliau juga mengingatkan bahwa sering kali nama yang benar ditinggalkan lalu diganti dengan istilah baru, sebagaimana dalam kasus sunnah yang digantikan oleh bid‘ah.

 

 

Penutup

Bagi jamaah umrah, Masjid Miqat di Dzul Hulaifah bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah gerbang awal perjalanan menuju Baitullah.

Di sinilah seorang muslim mulai meninggalkan simbol-simbol dunia: pakaian mewah, status sosial, dan perbedaan kedudukan. Semua jamaah berdiri sama dalam dua helai kain ihram, menyatakan kepatuhan kepada Allah dengan kalimat talbiyah.

Perjalanan menuju Makkah sebenarnya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati menuju ketundukan kepada Allah.

Semoga setiap langkah yang dimulai dari miqat ini menjadi awal perjalanan ibadah yang penuh keberkahan hingga sampai di hadapan Ka'bah, rumah Allah yang mulia.

 

 

Oleh: Abu Haneen, Lc

Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id