Menghidupkan Hari-hari di Tanah Suci dengan Berbagai Amalan Ibadah
Bismillah, alhamdulilah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du....
Jamaah umrah yang dirahmati Allah,
Kesempatan menunaikan umrah adalah karunia besar yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Betapa banyak yang rindu datang ke Tanah Suci, tapi belum Allah izinkan. Maka, jika hari ini kita termasuk yang diundang menjadi tamu-Nya di Makkah dan Madinah, itu pertanda kasih sayang dan pilihan dari Allah ﷻ.
Karena itu, jangan biarkan satu pun detik berlalu tanpa ibadah. Umrah bukan sekedar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati dan jiwa, saat kita menata niat, membersihkan hati (tazkiyah), dan memperbarui iman (tajdīd al-īmān).
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Umrah satu ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, mari kita manfaatkan setiap waktu di Tanah Haram dengan sebaik-baiknya. Jadikan setiap langkah, setiap dzikir, dan setiap shalat sebagai persembahan terbaik kepada Allah. Berikut panduan amalan yang dapat menghidupkan hari-hari kita di Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah, dua kota suci penuh rahmat dan ampunan.
1. Shalat Berjamaah di Masjidil Haram & Masjid Nabawi
Shalat berjamaah di dua masjid ini memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلاَةٌ فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Satu shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”
(HR. Ahmad (no. 15593), Ibnu Majah dalam Sunan (no. 1406),
Dan beliau ﷺ juga bersabda tentang Masjid Nabawi:
صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا المَسْجِدَ الحَرَامَ
“Satu shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.”
(HR. Bukhari no. 1190, dan Muslim no. 1394)
Maka, jangan sia-siakan waktu dengan berdiam saja di hotel. Bersegeralah menuju masjid, rebut shaf terdepan, dan perbanyak i’tikaf, duduk dalam keadaan suci untuk berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Tentunya dilaksanakan dengan menjaga dan tetap memperhatikan kondisi fisiknya agar tetap sehat selama perjalanan umrah.
2. Shalat Malam (Qiyāmul Lail / Tahajjud)
Inilah ibadah para penghuni surga. Waktu terbaiknya adalah di sepertiga malam terakhir, ketika Allah turun ke langit dunia dan menyeru:
هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟
“Adakah orang yang meminta, akan Aku beri; adakah yang memohon ampun, akan Aku ampuni?”
(HR. Muslim no. 758)
Qiyamullail bisa dua rakaat, empat, enam, delapan, sepuluh, bahkan lebih, setiap dua rakaat satu salam. Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat.”
(HR. Bukhari no. 990, dan Muslim no. 749)
Shalat malam dapat dilaksanakan baik di hotel maupun di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, menyesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan masing-masing.
3. Shalat Witir
Shalat witir merupakan penutup ibadah malam dan tidak pernah terlewatkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dikerjakan sedikitnya satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat, waktunya dimulai setelah shalat Isya hingga sebelum azan Subuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Esa dan menyukai yang ganjil.”
(HR. Abu Dawud, no. 1416; at-Tirmidzi, no. 453)
4. Shalat Dhuha
Shalat Dhuha adalah bentuk syukur seorang hamba ketika Allah telah menyempurnakan rezekinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ... وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يُرَكِّعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Setiap sendi manusia wajib disedekahi, dan dua rakaat shalat Dhuha telah mencukupi semua itu.”
(HR. Muslim, no. 720)
Waktu pelaksanaannya dimulai sekitar 20 menit setelah matahari terbit (syuruq) hingga 30 menit sebelum waktu Dzuhur.
5. Shalat Sunnah Rawatib
Shalat rawatib (qabliyah dan ba’diyah) menjaga kekurangan shalat wajib. Yaitu 2 raka'at sebelum subuh, 4 raka'at sebelum dhuhur, 2 raka'at setelah dhuhur, 2 raka'at setelah maghrib dan 2 raka'at setelah isya. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً، بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang melaksanakan dua belas rakaat shalat sunnah dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.”
(HR. Muslim, no. 728)
Shalat sunnah rawatib ini bisa dikerjakan di masjid maupun di hotel, yang terpenting adalah menjaga konsistensinya. Karena nilai ibadah bukan hanya pada tempatnya, tetapi pada keikhlasan dan kedekatan hati dengan Allah ta'ala.
6. Shalat Jenazah
Di Tanah Haram, hampir setiap selesai shalat 5 waktu ada shalat jenazah. Jangan kita sia-siakan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَ دَفْنَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ
“Barang siapa menshalatkan jenazah, maka ia mendapat satu qirath (pahala besar), dan barang siapa menghadiri pemakamannya hingga selesai, maka ia mendapat dua qirath.”
(HR. Bukhari, no. 47; Muslim, no. 945)
Dalam riwayat lain dijelaskan, “Satu qirath itu besarnya seperti gunung Uhud.”
Maka, setiap kali berkesempatan menshalatkan jenazah di Masjidil Haram atau Nabawi, jangan lewatkan, karena itu termasuk amalan agung yang jarang bisa diperoleh di tempat lain.
7. Shalat Tahiyyatul Masjid
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
“Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum shalat dua rakaat.”
(HR. Bukhari, no. 444; Muslim, no. 714)
Hadits ini menjadi dasar anjuran shalat tahiyyatul masjid, sebagai bentuk penghormatan kepada rumah Allah sebelum melakukan aktivitas lainnya.
8. Tilawah, Tadabbur, Tahsin, dan Tahfidz Al-Qur’an
Tanah Haram adalah tempat turunnya wahyu, maka tidak layak seorang tamu Allah lalai dari Kalam-Nya. Bacalah, pahami, dan perbaiki bacaanmu. Buatlah target tertentu, berikan waktu khusus untuk Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَأُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafaat bagi pembacanya.”
(HR. Muslim)
Catatan: Di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram banyak diselenggarakan halaqah tahsin Al-Qur’an untuk jamaah biasanya terbuka dan gratis. Cobalah bergabung, walau hanya sekali. Siapa tahu satu pertemuan itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hubunganmu dengan Al-Qur’an.
9. Sedekah dan Wakaf
Meski hanya sebutir kurma atau sebotol air minum, jangan remehkan. Allah ta'ala berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (pahalanya).”
(QS. Al-Baqarah: 245)
Di Masjidil Haram, setiap rupiah yang kita sedekahkan menjadi investasi akhirat yang nilainya tidak terhitung.
10. Dzikir dan Doa
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Hendaklah lidahmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Gunakan waktu di sela-sela ibadah dengan membaca:
- Istighfar: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
- Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil, dan Dzikir pagi-petang.
11. Tawaf Sunnah
Selain tawaf umrah, diperbolehkan melakukan tawaf sunnah sebanyak 7 putaran dan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Tawaf di Tanah Haram sama nilainya dengan shalat di tempat lain, karena ia termasuk dzikir paling agung di sekitar Ka’bah.
12. Taubat dan Muhasabah
Taubat adalah tanda hidupnya hati. Siapa pun yang berbuat dosa — sekecil apa pun — hendaknya segera kembali kepada Allah. Tanah Suci memang memiliki suasana yang sangat mendukung untuk itu, namun jangan dibatasi hanya pada tempat tertentu seperti Multazam, Hijr Ismail, atau Raudhah. Setiap sudut di Tanah Haram, bahkan di luar Tanah Haram sekalipun, bisa menjadi tempat terbaik untuk meneteskan air mata penyesalan dan bermuhasabah diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam banyak berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. at-Tirmidzi, no. 2499; hasan)
13. Belajar Ilmu Agama
Di antara amalan mulia selama di Tanah Suci adalah menghadiri majelis ilmu. Duduk bersama para penuntut ilmu dan ulama akan menambah cahaya iman serta meluruskan amal ibadah kita.
Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:
“Tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai setelah ibadah wajib daripada duduk di majelis ilmu.”
(Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi, 1/82)
Sungguh, ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan ibadah agar tidak salah arah dan agar diterima di sisi Allah. Karena itu, sempatkanlah mengikuti halaqah-halaqah ilmu di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.
Di Masjid Nabawi, banyak halaqah ta’lim yang diasuh oleh para masyayikh kibar dari Saudi, mengajarkan tafsir, hadits, dan fiqih dengan metode talaqqi. Jangan lewatkan kesempatan ini walau hanya sekali. Dan bagi jamaah yang belum menguasai bahasa Arab, tersedia pula halaqah ta’lim berbahasa Indonesia yang dipandu oleh ustadz Indonesia yang bersertifikat resmi dari pengelola Masjid Nabawi.
Penutup: Jadikan Umrah Sebagai Awal Perubahan Hidup
Setiap amal kecil di Tanah Haram memiliki nilai besar di sisi Allah. Bahkan duduk tenang sambil berdzikir, setelah shalat atau menunggu shalat pun dihitung sebagai ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ
“Para malaikat mendoakan orang yang tetap duduk di tempat shalatnya selama ia belum berhadats.”
(HR. Bukhari no. 445 dan Muslim no. 649)
Maka, jadikan setiap nafas di Makkah dan Madinah bernilai ibadah. Jangan habiskan waktu untuk bermain gadget, menonton TV, berfoto-foto atau belanja berlebihan, tapi fokuslah pada hal-hal yang menghidupkan hati dan menambah iman.
Baarakallahu fiikum, wahai para tamu Allah.
Semoga setiap rakaat, setiap dzikir, dan setiap langkah kita di dua tanah suci menjadi saksi yang akan menuntun kita ke surga-Nya, aamiin.
