Dakwah Nabi ﷺ di Thaif

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 27 Desember 2025, 12:17:45

 

Bismillah, alhamdulilah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....

Setelah wafatnya Abu Thalib, Nabi ﷺ melihat perlunya mengalihkan medan dakwah ke Thaif. Beliau berharap bisa menemukan kelompok yang mendukung risalah beliau, jauh dari tekanan Quraisy yang terus mengintimidasi, menyiksa, dan memboikot siapa pun yang masuk Islam. Maka beliau pun berangkat ke Thaif mencari dukungan dan perlindungan dari kabilah Tsaqif, agar mereka menolongnya menghadapi kaumnya sendiri.

 

Dialog yang Menggores Luka

Diriwayatkan bahwa beliau pergi sendirian, dan ada pula riwayat bahwa Zaid bin Haritsah ikut bersamanya. Setibanya di Thaif, beliau mendatangi beberapa tokoh Tsaqif yang paling terkemuka, tiga bersaudara: ‘Abd Yalail, Mas‘ud, dan Habib, putra ‘Amr bin ‘Umair bin ‘Auf. Pada salah satu dari mereka ada seorang wanita Quraisy dari Bani Jumah. Nabi ﷺ duduk bersama mereka, berbicara, dan menyeru mereka kepada Allah. Beliau menjelaskan maksud kedatangannya: mencari dukungan dan keberpihakan mereka terhadap dakwah.

Namun jawaban mereka sangat menyakitkan.

Salah seorang berkata: “Aku akan merobek pakaian Ka‘bah kalau benar Allah mengutusmu!”, sebuah sindiran bahwa beliau dianggap pendusta.

Yang lain berkata: “Apakah Allah tidak menemukan orang lain untuk dijadikan rasul selain engkau?”, sebuah penolakan sekaligus penghinaan terhadap Nabi ﷺ.

Yang ketiga menolak total: “Aku tidak akan berbicara denganmu sama sekali. Jika engkau benar rasul, engkau terlalu agung bagiku untuk sekedar diajak bicara. Dan jika engkau berdusta atas nama Allah, tidak pantas aku berbicara denganmu.”

Nabi ﷺ berdiri dan pergi dari mereka setelah putus harapan dari Tsaqif. Beliau berkata: “Jika kalian sudah bersikap seperti ini, tolong rahasiakan kedatanganku.”

Nabi ﷺ tidak ingin Quraisy mendengar kabar kegagalan ini, karena itu akan membuat mereka semakin berani menyiksa para sahabat, apalagi mengetahui bahwa beliau tidak memperoleh pertolongan di Thaif.

 

Diusir, Diejek, Dilempari

Namun bukan hanya menolak, mereka bahkan menyuruh para budak dan orang-orang bodoh mereka untuk mengejek dan melempari beliau dengan batu hingga telapak kaki beliau berdarah. Akhirnya beliau berlindung ke dalam sebuah kebun milik ‘Utbah dan Syaibah, dua putra Rabi‘ah. Mereka melihat dari jauh bagaimana Nabi ﷺ terluka dan kelelahan.

Beliau duduk di bawah naungan pohon anggur, hatinya pilu memikirkan kondisi umatnya. Kebodohan telah menguasai mereka hingga membuat mereka buta dari kebenaran. Bagaimana mungkin mereka akan diyakinkan?

Di saat itulah beliau mengadu kepada Allah dengan doa yang sangat menyentuh:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي، إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَكَ أَوْ تُحِلَّ عَلَيَّ سَخَطَكَ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ

"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Engkau adalah Pelindung bagi orang-orang yang lemah (Mustaḍ'afīn), dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, atau kepada musuh yang Engkau berikan kekuasaan atas urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (dengan kesulitan yang kuhadapi), namun keselamatan (ampunan/kesejahteraan) dari-Mu itu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang telah menerangi segala kegelapan, dan karenanya segala urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari Engkau menimpakan murka-Mu kepadaku atau Engkau menimpakan kemarahan-Mu atasku. Hanya bagi-Mu lah kerelaan (untuk mencabut teguran) hingga Engkau meridhai. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu." 

 

Pertemuan Menggetarkan dengan ‘Addas

Melihat kondisi Nabi ﷺ, dua bersaudara—‘Utbah dan Syaibah— tersentuh hatinya. Mereka memanggil budak mereka, ‘Addas, dan berkata: “Bawakan setandan anggur ini untuk orang yang sedang duduk di bawah pohon itu.”

‘Addas pun datang dan meletakkan anggur di hadapan Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ mengambilnya, beliau mengucapkan: “Bismillah.”

‘Addas heran: “Demi Allah, penduduk negeri ini tidak pernah mengucapkan kata seperti itu.”

Nabi ﷺ bertanya: “Dari mana asalmu dan apa agamamu?”

Ia menjawab: “Saya dari Ninawa (Iraq). Saya seorang Nasrani.”

Nabi ﷺ berkata: “Dari kampung seorang lelaki shalih, Yunus bin Matta.”

‘Addas berkata: “Darimana engkau mengetahui Yunus bin Matta?”

Nabi ﷺ menjawab: “Dia adalah saudaraku. Ia seorang nabi, dan aku juga seorang nabi.”

Mendengar itu, ‘Addas langsung memeluk Nabi ﷺ dan mencium kepala, tangan, dan kaki beliau. ‘Utbah dan Syaibah melihat dari jauh dan berkomentar: “Budakmu telah dirusak olehnya.” Ketika ‘Addas kembali, mereka menghardiknya agar tidak meninggalkan agamanya, karena mereka menyangka agamanya lebih baik.

Riwayat lain menyebutkan bahwa penduduk Thaif berdiri berbaris di sepanjang jalan keluar, terus melempari Nabi ﷺ hingga kaki beliau berdarah. Beliau lalu duduk di bawah pohon kurma dalam keadaan sangat sedih.

 

Dialog Nabi ﷺ dengan Malaikat Gunung

Dalam Shahih Muslim, Aisyah radhiyallahuanha pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:

“Apakah ada hari yang lebih berat bagimu daripada perang Uhud?”

Nabi ﷺ menjawab:

“Hari yang paling berat adalah ketika aku menghadapi mereka di ‘Aqabah (Thaif). Aku menawarkan diri kepada Ibn ‘Abd Yalail bin ‘Abd Kullal, tapi ia menolak. Aku pergi dalam keadaan sangat sedih hingga aku tiba di Qarn Ats-Tsa‘alib…”

Ketika beliau mengangkat kepala, terdapat awan menaungi beliau. Di sana ada malaikat Jibril yang berkata bahwa Allah Ta'ala telah mendengar ucapan mereka serta bagaimana mereka menolak dakwah Nabi ﷺ dan mengutus Malaikat Gunung untuk menuruti perintah Nabi ﷺ.

Malaikat Gunung berkata:

“Jika engkau mau, aku akan timpakan mereka dengan dua gunung itu.”

Namun Nabi ﷺ menjawab:

أرجو أن يخرج الله من أصلابهم مَن يعبد الله وحده لا يشرك به شيئًا

“Aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.”

Inilah puncak rahmat dan kesabaran risalah Muhammad ﷺ. Betapa mulianya akhlaq beliau suri tauladan kita semua, Muhammad ﷺ.

 

Kabar Gembira: Iman Para Jin

Setelah Thaif menolak, Allah mengganti dengan kaum lainnya. Saat Nabi ﷺ bermalam di Nakhlah dan shalat Isya di sana, sekelompok jin —jumlahnya sembilan—melintas dan mendengar beliau membaca Al-Qur’an. Mereka berhenti, lalu kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.

Allah Ta'ala berfirman:

 وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ * قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ 

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur'an. Maka ketika mereka hadir (di tempat Nabi membaca), mereka berkata (satu sama lain), "Diamlah (dengarkan dengan tenang)!" Setelah selesai (pembacaannya), mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan (munżirīn). 

Mereka berkata, "Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengarkan suatu Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus." (QS. Al-Ahqaf 29–30)

Telah disebutkan bahwa para jin mendengarkan Nabi ﷺ lebih dari satu kali. Satu kali di daerah Nakhlah, dan satu kali di sisi Makkah, di tempat yang dikenal dengan Mahbas al-Jinn.

Ketika itu beliau bersama Ibnu Mas‘ud. Lalu Nabi ﷺ membuat sebuah garis melingkar untuknya dan bersabda: ‘Jangan keluar dari lingkaran ini.’

Kemudian beliau maju menemui para jin, duduk bersama mereka, membacakan Al-Qur’an kepada mereka, dan mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada mereka.

Setelah itu para jin tersebut kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.

Disebutkan bahwa mereka berasal dari kota Nashībīn.

Dan dalam Surah al-Jinn terdapat firman Allah Ta‘ālā:

 قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا * يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا 

 “Katakanlah (wahai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan Al-Qur’an yang menakjubkan, yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar. Maka kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.’” (QS. Al-Jinn: 1–2)

 

Kembali ke Makkah

Nabi ﷺ ingin kembali masuk Makkah, tetapi khawatir Quraisy telah mengetahui peristiwa Thaif dan akan semakin keras menyakitinya. Maka beliau mengirim seseorang untuk meminta perlindungan (jiwar) dari Al-Muth‘im bin ‘Adi.

Al-Muth‘im menyanggupi. Ia keluar dengan putra-putranya yang membawa senjata dan mengantar Nabi ﷺ masuk Makkah dengan aman. Abu Jahl bertanya:

“Apakah engkau melindunginya atau mengikutinya?”

Al-Muth‘im menjawab: “Aku memberinya perlindungan.”

Abu Jahl berkata: “Kalau begitu, kami lindungi orang yang engkau lindungi.”

Beberapa hari kemudian, Nabi ﷺ berjalan melewati kelompok Quraisy. Abu Jahl mengejek: “Inilah nabi kalian, wahai Bani ‘Abd Manaf!”

‘Utbah menimpal: “Apa salahnya, kalau di antara kita ada seorang nabi atau seorang raja?”

Nabi ﷺ kemudian berkata: “Adapun engkau, wahai ‘Utbah, engkau tidak membela karena Allah, tetapi engkau membela untuk dirimu sendiri.

Dan engkau, wahai Abu Jahl, demi Allah, tidak akan berlalu waktu yang lama atasmu kecuali engkau akan tertawa sedikit dan menangis banyak.

Dan kalian wahai kaum Quraisy, demi Allah, tidak akan berlalu masa yang panjang atas kalian kecuali kalian akan memasuki sesuatu yang kalian ingkari, dalam keadaan kalian membencinya.”

Dan semuanya terjadi persis seperti yang beliau ﷺ katakan.

 

Faedah & Pelajaran Penting dari Kisah Thaif

1. Dakwah Selalu Menuntut Pengorbanan

Peristiwa Thaif menunjukkan bahwa jalan dakwah tidak pernah mulus. Rasulullah ﷺ manusia paling mulia di muka bumi harus menempuh perjalanan jauh, menerima caci maki, dan terluka oleh lemparan batu.

Pesan utamanya jelas: jangan berharap hasil instan dalam dakwah. Perjuangan selalu datang bersama ujian, dan kesabaran menjadi syarat untuk melihat buahnya.

2. Dakwah Membutuhkan Dukungan Sosial dan Politik

Kedatangan Nabi ﷺ ke Thaif bukan sekadar untuk menyampaikan risalah, tetapi juga mencari perlindungan dan dukungan sosial.

Ini menegaskan bahwa dakwah tidak berdiri sendiri. Ia memerlukan struktur, jaringan, dan ekosistem yang mendukung. Tanpa payung sosial-politik, dakwah mudah terhambat dan rentan diserang.

3. Penolakan Bukan Indikator Kegagalan

Suku Tsaqif menolak, mengejek, bahkan melukai Nabi ﷺ. Namun, Allah membuka jalan lain: sekelompok jin beriman setelah mendengar bacaan Al-Qur’an, dan penduduk Thaif sendiri akhirnya masuk Islam di kemudian hari.

Pesannya sederhana: tidak semua penolakan berarti gagal. Terkadang Allah menunda hasil agar seseorang naik derajat, lebih matang, dan lebih kuat jiwanya sebelum menerima kemenangan.

4. Rahmat Nabi ﷺ Melampaui Luka yang Diterimanya

Ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan Thaif, Nabi ﷺ memberikan jawaban yang mencerminkan keluasan rahmat beliau:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ

“Aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata.”

(HR. Bukhari no. 3231, dan Muslim no. 1795)

Alih-alih membalas dendam, Nabi ﷺ memikirkan masa depan dan keselamatan generasi berikutnya. Ini adalah standar akhlak tertinggi: mendahulukan maslahat umat dibanding emosi pribadi.

5. Jika Satu Pintu Tertutup, Allah Membuka Pintu Lain

Thaif menolak. Para tokoh menentang. Tetapi Allah membukakan hati pihak lain: jin beriman setelah mendengar Al-Qur’an, dan seorang budak bernama ‘Addas menerima hidayah saat berinteraksi dengan Nabi ﷺ.

Pelajarannya kuat: hidayah bukan kendali manusia. Tugas manusia hanya menyampaikan. Allah yang menentukan kepada siapa cahaya itu turun.

Wallahu a’lam bis showab ....

 

Rujukan: 

Dr. Muhammad Munir Al Janbaz; alukah.net/culture/0/157868/الدعوة-في-الطائف/#_ftn1 dengan penyesuaian

 

 

 

Oleh: Abu Haneen 

Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc 

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id