Tahun Kesedihan ('Aamul Huzni)

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 27 Desember 2025, 11:53:16

 

Bismillah, alhamdulilah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....

Pada perjalanan sejarah Nabi ﷺ, ada satu tahun yang terasa begitu berat, sampai-sampai para ulama menamakannya ‘AmulHuzn (Tahun Kesedihan). Sebutan ini bukan tanpa alasan. Dalam tahun yang sama, Rasulullah ﷺ kehilangan dua penopang terbesar dalam dakwah: pamannya yaitu Abu Thalib dan istrinya, Khadijah رضي الله عنها.

Duka itu bukan hanya sekedar kehilangan orang-orang tercinta, tetapi juga hilangnya perlindungan, dukungan moral, dan benteng dakwah yang selama ini menjaga Rasulullah ﷺ dari gangguan para pembesar Quraisy.

mari kita menelusuri kisah itu dengan hati yang jernih.

 

Wafatnya Abu Thalib: Runtuhnya Benteng Perlindungan

Sakit Abu Thalib semakin berat hingga akhirnya ia wafat. Mayoritas ahli sejarah menyebut wafatnya terjadi pada bulan Rajab, tahun ke-10 kenabian, sekitar enam bulan setelah kaum Muslim keluar dari Syi‘b Abu Thalib. Pendapat lain mengatakan beliau wafat di Ramadhan, tiga hari sebelum wafatnya Khadijah.

Hadits shahih dari al-Musayyab menggambarkan suasana itu:

النَّبِيُّ ﷺ دَخَلَ عَلَى أَبِي طَالِبٍ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ، فَقَالَ: يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai Paman, ucapkanlah: Lā ilāha illallāh. Kalimat yang akan aku jadikan pembelaan untukmu di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah terus membujuk: “Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”

Pengaruh itu begitu kuat, hingga kalimat terakhir Abu Thalib adalah: “Aku tetap pada agama Abdul Muththalib.”

Maka turunlah firman Allah:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

"Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu kaum kerabat sendiri, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka." (QS. At-Taubah: 113)

Dan firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya engkau (wahai Nabi) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al-Qashash: 56)

 

Bagaimana kedudukan Abu Thalib di akhirat?

Dalam hadits shahih, dari al-‘Abbas bin Abdul Muththalib, Ia berkata kepada Nabi ﷺ; “Wahai Rasulullah, apakah yang telah engkau berikan untuk pamanmu? Bukankah ia dahulu melindungi dan membelamu?”

Nabi ﷺ menjawab: 

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلَا أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Ia berada di dahdâh (genangan) api neraka. Kalau bukan karena (syafaat)ku, niscaya ia berada di tingkatan neraka yang paling bawah.”

Dalam hadits lain dari Abu Sa‘id al-Khudri: Ia mendengar Nabi ﷺ ketika menyebut tentang pamannya bersabda:

“Mungkin syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat, sehingga ia ditempatkan pada genangan api neraka yang hanya mencapai kedua mata kakinya.”

 

Wafatnya Khadijah: Hilangnya Cahaya Rumah Tangga Nabi ﷺ

Hanya berselang dua atau tiga bulan setelah Abu Thalib, datang musibah kedua: wafatnya Ummul Mukminin Khadijah al-Kubra. Ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, saat beliau berusia 65 tahun, sedangkan Rasulullah ﷺ berusia 50 tahun.

Beliau adalah belahan jiwa Nabi, penenang di saat gundah, penopang dalam gelapnya awal dakwah, dan satu-satunya wanita yang melahirkan anak-anak Rasulullah ﷺ,

آمَنَتْ بِي حِينَ كَفَرَ بِي النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِي حِينَ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَأَشْرَكَتْنِي فِي مَالِهَا حِينَ حَرَمَنِي النَّاسُ، وَرَزَقَنِي اللهُ وَلَدَهَا وَحَرَمَ وَلَدَ غَيْرِهَا

"Ia (Khadijah) beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku. Ia memberikan hartanya kepadaku ketika orang lain menahannya dariku. Dan Allah memberiku anak-anak darinya, sementara tidak dari wanita lain." (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 6/118)

Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan:

Jibril datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “Wahai Rasulullah ﷺ, ini Khadijah datang, bersamanya ada sebuah wadah berisi lauk, atau makanan, atau minuman. Jika ia telah datang kepadamu, sampaikan salam dari Rabb-nya untuknya, dan berilah ia kabar gembira dengan sebuah rumah di surga, yang terbuat dari qashab (mutiara/permata), yang di dalamnya tidak ada suara gaduh dan tidak ada kepayahan.” (HR. Bukhori, 1/539)

 

Lapisan Duka yang Semakin Menumpuk

Dua musibah besar; wafatnya Abu Thalib dan Khadijah رضي الله عنها datang hampir bersamaan. Hati Rasulullah ﷺ sangat terguncang. Belum sempat mereda, tekanan Quraisy justru semakin keras. Mereka berani menyakiti beliau lebih dari sebelumnya, karena pelindung terbesar beliau Abu Thalib telah tiada.

Dalam kondisi itu, Rasulullah ﷺ mencari peluang dakwah ke Thaif. Beliau berharap ada yang mau menerima risalah atau setidaknya memberi perlindungan. Namun yang terjadi, penduduk Thaif justru menyakiti beliau dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh kaumnya sendiri.

Tekanan bukan hanya menimpa Rasulullah ﷺ. Para sahabat pun ikut mengalami himpitan. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sampai harus meninggalkan Mekkah menuju Habasyah, sebelum akhirnya kembali karena jaminan perlindungan dari Ibnu ad-Dughnah.

Ibn Ishaq meriwayatkan bahwa setelah Abu Thalib wafat, Quraisy mulai berani mengganggu Rasulullah ﷺ. Suatu hari seorang lelaki dungu menaburkan tanah di kepala beliau. Nabi ﷺ pulang dalam keadaan kepala berdebu. Putri beliau membersihkan tanah itu sambil menangis. Rasulullah ﷺ bersabda dengan lembut:

لَا تَبْكِي يَا بُنَيَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ مَانِعٌ أَبَاكِ

"Jangan menangis, wahai putriku. Allah akan melindungi ayahmu."

Beliau juga sering berkata:

“Quraisy tidak pernah mengganggu aku dengan sesuatu yang aku benci sampai Abu Thalib wafat.”

Karena bertumpuknya duka dan tekanan pada tahun itu, Rasulullah ﷺ menamakannya ‘Am al-Huzn, Tahun Kesedihan. Dan nama itu tetap melekat dalam sejarah.

 

Faedah dan Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

  • Jalan kebenaran tidak pernah lahir dari zona nyaman.

Sejak awal, dakwah Nabi ﷺ menunjukkan bahwa kebenaran selalu menuntut kesabaran dan keteguhan. Hidup pun demikian, kalau semua serba mudah, kita tidak akan tumbuh.

  • Hidayah tetap mutlak milik Allah.

Abu Thalib -orang yang sangat Nabi cintai- tidak diberi hidayah. Maka dari sini bisa kita ketahui: tugas kita berusaha, berdakwah, dan mendoakan. Hasilnya biarlah berjalan sesuai keputusan Allah. Maka jangan letih mendoakan keluarga, meski mereka terasa jauh dari agama.

  • Setiap insan pasti melewati masa kehilangan.

Nabi ﷺ merasakan kehilangan besar pada Tahun Kesedihan. Artinya, duka bukan tanda lemahnya iman, tapi bagian dari manusia. Dan siapa pun yang sedang membawa luka dalam hati, ketahuilah! Anda sedang melangkah dalam jejak para nabi. Momen ibadah, refleksi, atau jeda hidup apa pun bisa menjadi ruang terbaik untuk menata hati agar Allah mengubah duka menjadi ketenangan.

  • Pasangan shalih adalah anugerah yang menguatkan jiwa.

Khadijah رضي الله عنها bukan hanya pendamping, tapi penopang misi kenabian. Dari beliau kita belajar: rumah tangga yang sehat adalah benteng iman. Dan setiap suami–istri selalu punya peluang memperbarui komitmen ibadah dan saling meneguhkan.

  • Keteladanan pemimpin melahirkan generasi kuat.

Para sahabat tangguh bukan karena ceramah panjang, tapi karena melihat akhlak Nabi setiap hari; jujur, amanah, pemberani. Ini formula abadi kepemimpinan: teladan lebih kuat dari seribu arahan. Dan siapa pun yang ingin menjadi pribadi teguh perlu menjadikan sunnah sebagai kompas hidup, bukan hanya teori.

  • Ujian bukan tanda benci, tapi sinyal kenaikan level.

Tahun Kesedihan justru membuka pintu Isra’ Mi’raj dan menjadi awal fase kemenangan dakwah. Begitu pula hidup kita: kadang Allah menahan sesuatu agar Dia memberi yang lebih tinggi nilainya. Saat diuji, bisa jadi Anda sedang disiapkan untuk naik tangga berikutnya.

 

Wallahu a’lam bis showab ....

 

Rujukan: 

Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, (Riyadh: Darussalam, 2002), hlm. 103–105. 

 

 

 

Oleh: Abu Haneen 

Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc 

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id