Etika dan Adab Jamaah Umrah

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 29 Oktober 2025, 06:01:29

 

Bismillah, alhamdulilah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ....

Umrah adalah ibadah yang agung, menuntut kesucian hati dan ketertiban lahir, sebagaimana tuntunan para Salafus Shalih. Tidak cukup hanya menunaikan thawaf, sa’i, dan doa, tetapi jamaah dituntut menjaga adab dan akhlak dalam setiap langkah, baik dalam berinteraksi dengan sesama jamaah maupun dengan penduduk lokal. Menjaga akhlak yang baik bukan sekedar kesunnahan, tetapi termasuk kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مكارمَ الأخلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad no. 8939, Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 273)

Dalam ajaran Islam, setiap jamaah umrah hendaknya meneladani akhlak Nabi ﷺ: khusyuk, sabar, dan menjaga niat ikhlas, serta mengamalkan adab yang telah diajarkan beliau kepada para sahabat. Oleh karena itu, adab jamaah umrah dapat dibagi menjadi tiga aspek utama:

  1. Interaksi dengan sesama jamaah dan penduduk lokal.
  2. Adab mengantri dan menjaga ketertiban di tempat ibadah.
  3. Menjaga kesabaran dan keikhlasan dalam setiap rangkaian ibadah di tanah suci.

 

1. Interaksi dengan Sesama Jamaah dan Penduduk Lokal

Berlaku sopan dan ramah adalah cerminan iman. Saat berada di Makkah dan Madinah, jamaah berasal dari berbagai negara, bahasa, dan budaya. Islam mengajarkan kita untuk menjaga adab agar ibadah tidak terganggu dan hati tetap tenang.

a. Berlaku Ramah dan Saling Menghormati

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.”(QS. Al-Baqarah: 83)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya terhadap muslim lain.”

(HR. Ahmad 2672, Bukhari Kitab al-Iman, no. 10 dengan redaksi berbeda)

Dalam berinteraksi dengan sesama jamaah, sikap ramah, saling menghormati dan sopan menjadi kunci utama. Mulailah dengan menyapa jamaah lain dengan senyuman yang tulus, karena senyum adalah sedekah yang ringan namun penuh pahala. Hindari mengeluh atau bersuara keras di tempat umum sampai membuat jama'ah lain tidak nyaman dengan tingkah laku atau ucapan kita, sebab hal itu bisa mengganggu kekhusyukan ibadah orang lain. Selain itu, jagalah ketertiban dengan tidak mendorong atau memotong antrian demi kepentingan pribadi, karena setiap jamaah memiliki hak yang sama untuk menunaikan ibadah dengan aman dan tertib. Dengan begitu, suasana ibadah menjadi nyaman dan penuh berkah bagi semua.

b. Menghargai Penduduk Lokal

Penduduk Makkah dan Madinah adalah tuan rumah, sehingga perlu dihormati. Hindari menimbulkan kebisingan, merusak fasilitas, atau membuang sampah sembarangan. Allah ta'ala berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kalian disapa dengan salam, balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah sebagaimana semestinya.”(QS. An-Nisa: 86)

Penduduk Makkah dan Madinah adalah tuan rumah bagi setiap jamaah umrah, sehingga mereka layak dihormati dengan penuh sopan santun. Salah satu cara sederhana namun penting adalah membalas salam mereka dengan ramah, sesuai perintah Allah ta'ala

Balasan salam yang ramah, senyuman, atau sapaan hangat menunjukkan penghormatan dan kesopanan kita sebagai tamu. Selain itu, menjaga ketenangan, tidak menimbulkan kebisingan, dan tidak merusak fasilitas umum adalah wujud nyata menghargai mereka. Tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya atau menjaga kebersihan kamar hotel menunjukkan bahwa kita menghormati hak dan kenyamanan tuan rumah. Dengan cara ini, ibadah kita tidak hanya menjadi sah secara syariat, tetapi juga menebarkan akhlak mulia.

 

2. Adab Mengantri dan Menjaga Ketertiban di Tempat Ibadah 

a. Mengantri di Ka’bah

Ka’bah adalah pusat ibadah, sehingga jamaah harus menjaga ketertiban.

  • Jangan mendorong jamaah lain.
  • Tunggu giliran untuk menyentuh Hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan maka tidak perlu dipaksakan, ingat! menyentuh hajar aswad hukumnya sunnah, namun menjaga diri dari menzalimi orang lain adalah wajib.

b. Mengantri di Shafa-Marwah

Sa’i antara Shafa dan Marwah menuntut kesabaran dan disiplin.

  • Ikuti jalur yang telah ditentukan.
  • Jangan memotong barisan atau merusak barisan jamaah lain.
  • Bersikap khusyuk, tenang, tidak disibukkan dengan foto/video, jangan terburu-buru.

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah termasuk syiar Allah.”(QS. Al-Baqarah: 158)

c. Mengantri di Raudhah

Raudhah di Masjid Nabawi merupakan tempat mustajab berdoa.

  • Ikuti aturan pihak pengelola masjid, jika diwajibkan menggunakan aplikasi maka ikuti aturan tersebut.
  • Jangan mengganggu atau menabrak jamaah lain.
  • Lakukan ibadah di raudhah dengan khusyuk dan benar, tidak berlama-lama di sana supaya jamaah lain bisa mendapatkan kesempatan ini juga.

 

3. Menjaga Kesabaran dan Keikhlasan dalam Setiap Rangkaian Ibadah di Tanah Suci

a. Menjaga Kesabaran

Kerumunan dan panasnya cuaca kadang membuat jamaah lelah atau emosi. Rasulullah ﷺ mengajarkan sabar sebagai bagian dari ibadah:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu hanyalah karena Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

b. Menghindari Konflik

  • Jangan bertengkar demi urusan kecil.
  • Tahan diri dari membalas dorongan atau ucapan kasar.
  • Fokus pada tujuan ibadah, bukan ego pribadi.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (kejahatan) dengan yang lebih baik, maka orang yang semula bermusuhan akan seakan menjadi teman yang sangat dekat.” (QS. Fussilat: 34)

c. Menjaga Niat Ikhlas

Niat ikhlas adalah kunci diterimanya ibadah umrah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang diniatkannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kunci ibadah umrah yang utama adalah niat yang ikhlas karena Allah semata. Setiap langkah, dari thawaf, sa’i, hingga doa, harus dilakukan tanpa pamer atau mencari pujian orang lain. Dengan niat yang lurus, hati tenang dan fokus, sehingga setiap amalan, sekecil apapun, bernilai di sisi Allah meski di tengah keramaian.

 

Penutup

Etika dan adab jamaah umrah adalah cerminan iman dan kesucian hati. Menjaga interaksi dengan sesama, disiplin saat mengantri, kesabaran, dan niat ikhlas akan menjadikan umrah mabrur, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

“Antara satu umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya.”

(HR. Bukhari no. 1773, Muslim no. 1215)

Semoga setiap jamaah dapat menunaikan ibadah dengan penuh khusyuk, aman, dan damai, sehingga pulang dengan hati yang bersih, iman yang kuat, dan akhlak yang mulia.

 

Wallahu a’lam bis showab....

 

 

Oleh: Abu Haneen 

Team redaksi: Miqdad Al Kindi, Lc 

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id